Minggu, 17 Maret 2013

LAPORAN PROJECT WORK 4G




LAPORAN PROJECT WORK

PROSES PENGELASAN 4SMAW

  

 



Disusun Oleh :


Nama Siswa               Nasri Muhammad Zurli
Nomor Induk             : 101002548
Kelas                           : XII Las 1
Program Keahlian    : Teknik Pengelasan



PEMERINTAHAN KABUPATEN BOGOR
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 1 GUNUNG PUTRI
KELOMPOK TEKNOLOGI DAN INDUSTRI
Jalan Barokah No 06 Wanaherang, Gunungputri,Kabupaten Bogor
           Telp/Fax : 021 8673310 E-Mail : smkn1gnp@smkn1gnputri.sch.id


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyasehingga penulis dapat menyelesaikan makalah las listrik.Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak karena telah banyak membantu sehingga laporan ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
Laporan las listrik ini disusun berdasarkan apa yang penulis dapatkan daripembelajaran las listrik dan las gas serta dari berbagai referensi yang penulis dapatkan.
Dengan tersusunnya makalah ini, penulis berharap agar kiranya ini dapat digunakansebagai salah satu sumber penambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan. Disamping itu penulis mengharapkan bahwa laporan ini tidak hanya sebagai pelengkap tugas saja melainkan dapat disebut sebagai hasil karya yang setidaknya, dipelihara dan digunakan sebagaimana mestinya.
            Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami selaku penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini.
            Ucapan  terima kasih kami sampaikan kepada yang terhormat :
1.      Drs.H.Rahcmat MM selaku kepala SMK Negeri 1 Gunung Putri
2.      Tinton Heru Bastianto,S.Pd selaku Ka.Prog./Pembimbing SMK Negeri 1 Gunungputri
3.      Hermi Wahyuningsih, S.Pd selaku wali kelas XII Las 1 SMK Negeri 1 Gunungputri
4.      Andrian Fauzi Baktir selaku Guru Mata pelajaran Produktif
5.      Serta Teman-teman seperjuangan yang membantu menyelesaikan laporan ini
Kami menyadari bahwa penulisan laporan tugas akhir ini jauh dari sempurna, oleh karna itu kami mengharapan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian. Terima Kasih

                                                                       
            Gunung putri, Februari 2013


Nasri.Mz



DAFTAR ISI


Sampul muka
Kata pengantar...................................................................................       i
Daftar isi............................................................................................        ii
BAB l PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................       1
1.2 Maksud dan Tujuan..................................................................     1
1.3 Sistematika Laporan.................................................................      2
BAB ll TEORI PENDUKUNG
2.1 Pengertian Las.........................................................................       3
2.2 Pengertian Las Busur Metal Manual (SMAW).......................    3
2.3 Jenis – jenis Cacat Las dan Penyebabnya................................    4
2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pengelasan.............    10

BAB III PENGELASAN POSISI 4G
3.1 Alat dan Bahan........................................................................       11
3.2 Proses Pekerjaan .....................................................................      11
3.3 Hasil Kerja...............................................................................       13
3.4 Bentuk – bentuk posisi pengelasan..........................................    14
3.5 Perhitungan Biaya....................................................................      15
BAB IV TEMUAN DAN PENGEMBANGAN
1.1           Faktor Pendukung dan Penghambatan.................................   16
1.2           Rencana Tindak Lanjut........................................................     16
BAB V PENUTUP
     5.1 Kesimpulan.............................................................................      17
     5.2 Saran.......................................................................................       17

DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN


1.1   LATAR BELAKANG

Dengan semakin berkembangnya teknologi industry saat ini, tidak bisa mengesampingkan pentingnya penggunaan logam sebagai komponen utama produksi suatu barang, mulai dari kebutuhan yang paling sederhana seperti alat-alat rumah tangga hingga konstruksi bangunan dan konstruksi permesinan. Hal ini menyebabkan pemakaian bahan-bahan logam seperti besi cor, baja, aluminium dan lainnya menjadi semakin meningkat. Sehingga dapat dikatakan tanpa pemanfaatan logam, kemajuan peradaban manuasia tidak mungkin terjadi.Dengan kemampuan akalnya, manusia mampu memanfaatkan logam sebagai alat bantu kehidupannya yang sangat vital. Berbagai macam konstruksi mesin, bangunan danlainnya dapat tercipta dengan adanya logam. Logam tersebut menimbulkan kebutuhanakan teknologi perakitan atau penyambungan. Salah satu teknologi penyambungan tersebut adalah dengan pengelasan.Teknik penyambungan logam sebenarnya terbagi dalam dua kelompok besar,yaitu :.

1.        Penyambungan sementara (temporary joint), yaitu teknik penyambungan logam yang dapat dilepas kembali.
2.        Penyambungan tetap (permanen joint), yaitu teknik penyambungan logam dengancara mengubah struktur logam yang akan disambung dengan penambahan logampengisi. Termasuk dalam kelompok ini adalah solder, brazing dan pengelasan.Dari teknik tersebut dijadikan sebagai dasar dibentuknya benda-benda logamseperti yang dimaksud pada uraian diatas. Dalam hal ini proses pengelasan terdiri dari laslistrik dan las gas.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dibuatnya laporan ini merupakan tugas utama dalam mengisi nilai akademik pelajaran teknologi manufaktur yakni las listrik. Selain itu,sesuai sasaran yang dikemukakan diatas, sebagian besar tujuan dibuatnya laporan ini ialah membagi pengetahuan serta membantu rekan-rekan siswa teknik pengelasan di SMK N 1 Gunung Putri yang kurang memahami mengenai las listrik,dimana diharapkan dengan itu siswa dapat menguasai teori pengelasan sehingga nantinya dapat diaplikasikan dalam proses praktik di bengkel




1.3 SISTEMATIKA LAPORAN

Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
1.2  Maksud dan Tujuan
1.3  Sistematika Laporan
Bab II Teori Pendukung
2.1 Pengertian Las
2.2 Pengertian Las Busur Metal Manual (SMAW)
2.3 Jenis – jenis Cacat Las dan Penyebabnya
2.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pengelasan

Bab III Pengelasan Posisi 4G
3.1 Alat dan Bahan
3.2 Proses Pekerjaan
3.3 Gambar Kerja
3.4 Hasil yang dicapai
3.5 Perhitungan Biaya

Bab IV Temuan dan Pengembangan
1.1       Faktor Pendukung dan Penghambatan
1.2       Rencana Tindak Lanju
Bab V Penutup
     5.1 Kesimpulan
     5.2 Saran


DAFTAR PUSTAKA







BAB II
TEORI PENDUKUNG
2.1 Pengertian Las
Las (Welding) adalah suatu cara untuk menyambung benda padat dengan jalan mencairkannya melalui pemanasan.
Untuk berhasilnya penyambungan diperlukan beberapa persyaratan yang harus di penuhi, yakni :
-          Bahwa benda pedat tersebut dapat cair atau lebur oleh panas
-          Bahwa antar benda-benda padat yang disambungkan tersebut terdapat kesesuaian sifat lasnya sehingga tidak melemahkan atau tujuan penyambungannya dan mengagalkan sambungannya tersebut
-          Bahwa cara-cara penyambungan sesuai dengan sifat benda padat.
Hingga saat ini terdapat sekitar 35 jenis pengelasan di dunia. Dari jumlah tersebut yang paling populer antara lain :
 -               pengelasan dengan mempergunankan busurnya listrik (SMAW),
 -               Las karbit (OAW),
 -               Las TIG (Tungsten Inert Gas Welding),
 -               Las MIG (Matal Gas Welding),
 -               Las tahanan listrik (ERW),
 -               Las Busur Terbenam (SAW).
 -               Dari jenis tersebut yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah las SMAW (Shielded Metal Arc Welding).

2.2 Pengertian Las Busur Manual (SMAW)
            SMAW merupakan suatu teknik pengelasan dengan menggunakan arus listrik berbentuk busur arus dan elektroda berselaput. Tipe-tipe lain dari pengelasan dengan busur arus listrik adalahsubmerged arc welding SAW, gas metal arc welding GMAW-MIG, gas tungsten arc welding Gdan plasmaarc. Didalam pengelasan SMAW ini terjadi gas penyelimut ketika elektroda terselaputitu mencair, sehingga dalam proses ini tidak diperlukan tekanan/pressure gas inert untuk mengusir oksigen atau udara yang dapat menyebabkan korosi atau gelembung-gelembungdidalam hasil las-lasan.
Proses pengelasan terjadi karena arus listrik yang mengalir diantaraelektroda dan bahan las membentuk panas sehingga dapat mencapai 3000 oC, sehingga membuatelektroda dan bahan yang akan dilas mencair. Berdasarkan jenis arus-nya, pengelasan ini dibagiatas arus AC dan DC, dimana arus DC dibedakan atas Straight polarity- polaritas langsung danReverse polarity - polaritas terbalik. Sedang mesin lasnya terbagi atas dua jenis yaitu constantcurrent - arus tetap dan constant voltage - tegangan tetap, dimanapada setiap pengelasan busur arus listrik jika terjadi busur yang membesar akan menurunkan arus dan menaikkan teganganserta pada busur yang memendek akan meningkatkan arus dan menurunkan tegangan.Untuk mendapatkan pengelasan yang baik harus :
          menggunakan elektroda yang tepat
          jenis arus yang tepat
          jenis polaritas yang tepat untuk arus DC
          hindari gerakan pengelasan kiri kanan selama mengelas
           bentuk busur arus yang pendek, lakukan pengelasan secara mantap dan teratur 
          laju pengelasan yang sesuai dengan kecepatan elektroda yang mencair.
Masalah-masalah yang sering timbul pada pengelasan busur arus adalah :
1.elektrode membeku / pengelasan terhenti
2.bentuk kampuh las yang jelek 
3.busur arus las yang jelek karena mengembang
4.Sedang selaput elektrode / fluks umumnya terbuat dariseratkayu/sellulosa
5.titanium oksida
6.titanium + senyawa basa
7.Mn + Fe + Si
8.Besi oksida
9.CaCO3, yang akan membentuk jebnis-jenis elektrode berupa type : E, R, ER, EC, EW, B,RB, RG dan F.Pemilihan elektrode ini berdasarkan :
          sifat dari bahan yang akan dilas
          posisi pengelasan
          type sambungan
          jumlah pengelasan
2.3 Jenis – jenis cacat las dan penyebabnya
Jenis – jenis kesalahan pengelasan yang tidak dapat dilihat dengan mata, hanya dapat dideteksi dengan menggunakan radiography dan utrasonik. Adapun   jenis – jenis kesalahan  tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Under Cut
b.      Stag Lines (Wagon track)
c.       Internal Longitudinal crack
d.      Internal transverse crack
e.       Incomplete penetration
f.       Incomplete fusion
g.      Internal porosity
h.      Blow hole
i.        Root concaving
j.        Surface concaving
k.      Fault of junction
l.        Root high low
m.    Aligned porosity
n.      Excessive penetration
o.      Interpass cold lap
p.      Heavy metal inclusion
A.      Undercut
Adapun penyebat cacat undercut adalah :
1.        Terlalu tinggi arus pada jalur las terakhir (capping) sehingga melebihi jumlah maksimum yang diizinkan, akibatnya suhu terlalu tinggi dan melumerkan bahan dasra di sekitar pinggir kampuh membentuk parit.
2.         Suhu metal sudah terlalu tinggi sebelum pengelasan jalur akhir dimulai, sehingga waktu capping dilaksanakan, bahan dasar sekitar kampuh melumer.
3.         Ayunan elektroda yang tidak penuh, sehingga sebagian sisi kampuh kurang/tidak terisi bahan las sepenuhnya.
4.         Penyetelan yang tinggi rendah sehingga menyulitkan pengisian kampuh, akibatnya sebagian tepi kampuh kurang/tidak terisi bahan las sepenuhnya
Undercut ini memperlemah kekuatan sambungan sehingga harus diisi kembali dengan las, dengan cara stringing (las lajur dengan elektroda tidak diayun)

1.                   Undercut akar (Root Undercut) -1
Jenis cacat ini dalam film X-Ray tampak sebagai suatu perbandingan imagi yang kontras/nyata dan  relatif lurus (biasanya terletak di tengah – tengah jalur las). Cacat las dalam kondisi operasi  dimana pipa mengandung  zat yang reaktif/mudah berkarat, akan memprakasai serangan karat ang dimulai pada sudut cekung di sisi akar las yang offset. Cacat ini lazim pula disebut mismatch with lack of penetration (penyetelan kurang tepat dengan pengisian kurang).

2.                  Undercut akar (Root Undercut) -2
      Jenis undercut ini sebenarnya sama dengan undercut akar -1, namun berbeda penyebabnya. Cacat ini disebabkan oleh terlalu panasnya suhu pengelasan akar las karena arus las yang terlalu tinggi atau karena suhu bahan yang terlalu panas. Suhu bahan terlalu panas akibat pengelasan terlalu lama atau panjang tanpa pendinginan sejenak (cooling interval) atau karena laju pengelasan akar yang terlalu pelan. Jenis cacat ini berakibat sama dengan undercut akar -1. Gejalanya berupa garis memanjang disekitar pinggir posisi akar las pada film X-ray. Hal ini disebabkan oleh mencairnya sisis akar kampuh sebelum waktunya.

B.                 Jalur kerak (slag lines/wagon track).
Cacat ini berupa dua jalur garis warna gelap yang tidak lurus pada film x-ray yang terletak di daerah las pertama (disepanjang sisi-sisinya). Hal ini disebabkan oleh tiga hal yakni :
1.                  Arus pengelasan pertama yang terlalu rendah sehingga bentuk alur las pertama cembung.
2.                  Pembersihan kerak yang kurang sempurna karena bentuk jalur yang cembung tersebut diatas.

C.                Retak Akar Memanjang (Longitudinal Root Crack).
1.                  Retak Akar Memanjang (Longitudinal Root Crack)-1
Cacat ini tampak sebagai garis memanjang jalur las yang tidak lurus dan kadang-kadang tampak sangat samar-samar/kurang jelas. Cacat ini disebabkan oleh ketidakmampuan  bahan las atau bahan dasar menahan tegangan dalam bahan dan gaya-gaya yang bekerja terhadap sambungan las. Jenis cacat ini sangat berbahaya karena dapat berkembang secara cepat dan eatasthropis/fatal, jadi bukan hanya harus dibuang/digauge menyeluruh dari lapis teratas (capping) hingga akar las dilokasi retak.

2.                  Retak Akar Memanjang  (Longitudinal Root Crack)-2
Cacat ini berupa garis hitam samar-samar dan tidak lurus yang terletak di di dalam daerah jalur las akar (stringer bead). Cacat ini sering di salah tafsirkan sebagai slag line atau undercut akar yang kecil/dangkal.

D.                Retak Melintang Internal (Internal Transverse Crack)
Cacat ini berupa garis-garis yang tidak lurus ( yang tampak sebagai akar rambut ) yang melintang jalur las. Cacat ini adalah cacat yang paling berbahaya diantara jenis cacat las yang berbahaya lainnya. Karena retak ini menunjukan adanya tegangan-tegangan yang sangat besar yang bekerja pada sambungan las yang tidak tidak tertahankan oleh sambungan las tersebut.

E.                Kurang Penetrasi ( Incomplete Penetration )
Cacat ini tampak sebagai garis lurus yang kadang-kadang lebar dan kadang-kadang agak sempit ( selebar celah antara bevel/sisi kampuh yang disiapkan oleh pemasang penyetel/fitter ) untuk pengelasan pertama.

F.                 Fusi Tidak Baik (Lack of Side Wall Fusion/Incomplete Fusion)
Gejala cacat ini tampaknya pada film x-ray mirip dengan cacat lipatan dingin antarlintas las, yakni berupa satu atau dua deret bintik-bintik warna gelap yang terletak pada garis yang relatif lurus. Cacat ini disebabkan oleh tidak berfungsinya bahan las dengan dingin kampuh sehingga sambungan las praktis tidak berkekuatan (berfungsi) menyambung lagi dengan sempurna. Ketidaksempurnaan fusi antara bahan penyambung (bahan las) dengan bahan dasar disebabkan oleh beberapa hal yakni :
1.        Kampuh kotor oleh minyak, cat dan bahan-bahan lain yang mementahkan fusi.
2.        Arus salah satu pass terlalu rendah sehingga tidak cukup untuk mencairkan dinding kampuh dengan sempurna.

G.               Keropos (Internal Porosity)
Cacat ini berupa butir-butir  berwarna gelap dengan betuk-bentuk yang terdapat sepanjang jalur las.
Keadaannya dapat terpisah-pisah atau berkelompok. Hal ini disebabkan oleh terperangkapnya gelembung-gelembung gas sewaktu cairan las membeku. Gelembung-gelembung gas tersebut berasal dari bintik-bintik embun/air yang terurai karena suhu las yang sangat tinggi menjadi gas H2 dan O2. Akibatnya sambungan las menjadi keropos karenanya kekuatannya melemah.

H.                Terbakar Tembus (Burnt Through/Blow Hole)
Cacat ini tampak sebagai noda-noda besar ditengah-tengah jalur las berwarna gelap satu-satu pada jarak tertentu. Sebenarnya cacat ini mirip dengan cacat akar cekung terjadinya hanya sesaat sehingga cacatnya pun terdapat pada satu dasar las kemudian diisi kembali.

I.                   Akar Cekung (Root Convacity)
Cacat ini disebabkan oleh terlalu tingginya arus pengelasan akar las atau terlalu panasnya suhu bahan dasar atau terlalu lambatnya kecepatan pengelasan akar sehingga bahan las sempat menetes  sebelum membeku sehingga mengakibatkan cekungan sepanjang akar las hingga kondisi pengelasan membaik kembali.

J.                  Surface Concavacing
Penyebab concavacing adalah kekurangan pengisian pada jalur las terakhir sehingga permukaan jalur tampak cekung. Jenis kesalahan ini agak memperlemah sambungan jalur sehingga perlu diperbaiki dengan mengisi jalur yang cekung tersebut dengan las.

K.               Deposisi Akar Yang Salah (Faulty Root Deposition/Fault of Junction)
Cacat ini pada film x-ray tampak sebagai noda-noda hitam pada jalur pengelasan awal yang melintang imagi las akar. Hal ini disebabkan oleh pencairan elektroda yang tidak tetap sewaktu pengelasan pertama yang mungkin disebabkan oleh tidak lancarnaya aliran listrik pengelasan.

L.                 Akar Tinggi Rendah (Root High Low)
Jenis cacat in i tampaknya pada film x-ray hampir mirip dengan undercut  akar yakni berupa perbedaan imagi yang kotras/nyata antara dua bagian memanjang jalur las namuntidak merupakan garis lurus sebagai halnya undercut akar. Akibatnya akan terjadi turbulensi di akar las tersebut yang mengawali terjadinya erosi pada lason.

M.              Akar Las Keropos (Root Pass Aligned Porosity)
Cacat ini dalam film x-ray tampak sebagai sederetan bintik-bintik besar kecil berwarna gelap di tengah-tengah jalur las sepanjang daerah akar las. Cacat ini disebabkan oleh keadaan basah/lembab sewaktu pengisian pertama dan gas pelindung ( argon atau CO2 yang basah dengan uap air )


N.                Penetrasi Berlebih (Excessive Penetration)
Cacat ini tampak sebagai bagian yang memulih secara nyata di tengah-tengah dan di sepanjang jalur las. Hal ini disebabkan berlebihnya bahan las  yang diisikan kedalam akar kampuh sewaktu pengisian pertam a (stringer bead). Maka cacat ini dapat merusak bola karet tersebut dan akibatnya produk-produk tadi dapat tercampur satu sama lain sehingga terjadi kontaminasi spesifikasi produk.

O.                Lipatan Dingin Antar-Lintas Jalur (Interpass Cold Lap)
Cacat ini pada flm x-ray sepintas tampak sebagai gejala keropos atau porositas yang tersebar berupa bintik-bintik berwarna gelap agak samar-samar yang berderet pada suatu deret yang relative lurus.

P.                 Inklusi Logam Berat (Heavy Metal Inclusion)
Jenis cacat ini pada film x-ray tampak sebagai bintik-bintik putih yang sangat jelas batas-batasnya dibanding warna imagi jalur las sendiri. Cacat ini disebabkan termasuknya logam-logam berat kedalam bahan las. Cacat ini dapat dianggap sebagai halnya inklusi kerak las (slag) biasa.

2.4              Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pengelasan

A.                Keselamatan dalam Pengelasan

1.             Persiapan Ligkungan Kerja
            Meninjau apakah lokasi pengelasan layak untuk ditempati oleh tukang las selama melaksanakan pekerjaan, Misalnya apakah lokasi pengelasan panas sekali,bising sekali,letaknya cukup atau sangat tinggi,basah/lembab/becek atau di atas permukaan air yang bergelora,mengandung gas – gas yang mudah terbakar /meledak ataupun beracun,di tengah – tengah kerumunan/keramaian  massa,didalam ruangan yang sempit/pengap,di daerah yang berdebu dan sebagainya.

2.             Peralatan yang akan di las
            Peralatan yang akan dilas harus dipersiapkan sedimikian rupa supaya layak di las, artinya: peralatan telah dibebaskan dari tugas oprasinya, telah dikosongkan dan dibilas, diperiksa lebih dahulu kandungan gasnya yang berbahaya dengan hasil pemeriksaan yang memuaskan, menyediakan sasaran ventilasi seperti bukaan (opening) paling tidak 2 buah dan diperlengkapi dengan blower plan suply udara segar serta lampu 24 volt (jika pengelasan dilaksanakan di dalam peralatan).

3.             Peralatan pengelasan
-                 Mesin las atau transformer harus dalam keadaan baik dan dapat mensuply arus dan tegangan yang tidak selalu berubah dengan sendirinya, serta tidak mudah rusak.
-                 Kabel las harus tidak boleh ada cacat yang menyebabkan kebocoran busur nyala yang akibatnya dapat sangat berbahaya bagi keselamatan instalasi dan personal.
-                 Terminal2 kabel serta kutub2 harus dalam keadaan baik dan terpelihara. Ujung2 kabel yang telanjang tidak boleh dihubungkan dengan benda kerja melalui klam, karna sisa cairan tembaga yang menempel pada permukaan baja dapat menyebabkan keretakan yang sangat cepat pada baja tersebut. Fenomena alam ini lazim disebut koper burnt atau (berkas tercairkannya tembaga).
-                 Tangkai las dan klam las harus dalam keadaan baik dan terpelihara. Tangkailas yang terkelupas akan menjaadi tak terpegangkan lagi karna isolasi panasnya telah hilang dan suhu las yang sangat tinggi tersebut merambat ke tangkai. Akibatnya pengelasan terhenti henti/ tertegun tegun dan hasilnya tidak dapat dijamin lagi.
-                 Rambu rambu peringatan dan lembar atau selubung pelindung busur nyala listrik dipersiapkan sesuai kebutuhan dan keadaan lingkungan.
-                 Alat pengatur arus yang fotable ( dapat di jinjing ) harus menunjukan arus yang sebenarnya.
4.     Peralatan bantu
-        Botol botol acytelene, peropan, zat asam harus masih dalam masa berlakunyapemeriksaan dan uji tekan yang terakhir oleh departemen tenaga kerja. Harus dalam keadaan baik tanpa cacat yang berarti tidak ada goresan dalam, taktik, cekungan dalam pada badan botol serta ulirnya masih baik.
-                 Katub pengurang tekanan  (reducing vaive) harus masih berfungsi dengan baik.
-                 Selang sealang gas dan zat asam tidak boleh cacat yang mengakibatkan kebocoran gas acitelene/propan.
-                 Brander brander / obor potong harus dalam keadaan baik dan terawat.
-                 Grinda las harus masih baik. Mata gerinda harus sesuai dengan pemakaian (tepat guna) serta dipasang pada mesin pemutar denagan putaran yang sesuai dengan spesifikasi batu grinda.
-                 Alat pemadam kebakaran harus selalu tersedia dekat lokasi peneglasan. Alat tersebut harus masih berfungsi dengan baik dan masa oemeriksaan uji cobanya masih berlaku.
-                  
5.            Peralatan keselamatan perorangan
-                 Baju lengan panjang dan celana panjang yang terbuat dari katun. Jenis bahan lain tidak tepatuntuk dipakai sebagai pakaian kerja panas.karena percikan las dapat membakar kain tersebut secara cepat.Pada waktu pengelasan,leher baju dikancingkan dan bagian bawahnya dimasukan kedalam celana untuk menghindari percikan las masuk ke balik baju
-                 Topi pet katun yang dapat diputar kebelakang untuk pemasangan topeng las
-                 Topeng las(pelindung mata dan muka) yang baik dan tepat guna
-                 Sarung tangan
-                 Selongsong kaki yang terbuat dari kulit
-                 Sepatu keselamatan
-                 Pelindung dada dari kulit(apron)

                                            
6.             Peralatan las perorangan
-                 Peralatan biasa seperti: Martil pembersih,yang terbuat dari stenless steel,dan yang terbuat dari paduan tembaga. Pemakaiannya tidak boleh tertukar karena akan berakibat pengkaratan pada sambungan las.
-                 Peralatan khusus seperti: tang pengukur arus tegangan listrik, dan kapur pengukur suhu permukaan bahan (tempil stick).
7.      Pelaksanaan
            Selama pelaksanaan pengelasan seluruh alat dan perlengkapan keselamatan kerja harus dipakai dan dimanfaatkan. Hal ini dimaksudkan bukan hanya untuk keselamatan pribadi pelaksanaan itu sendiri,namun juga untuk para pembantu serta orang – orang yang berada di sekitar lokasi pengelasan.
            Pelaksanaan pengelasan harus benar- benar sesuai dengan prosedur pengelasan (WPS/Welding Procedure Specification)yang telah disetujui.Mengingat persiapan – persiapan pengamanan tertentu perlu dilaksanakan sebelum pengelasan dapat dimulai guna mencegah terjadinya bahaya peledakan atau kebakaran.Persiapan tersebut meliputi pengujian kandung gas (Gas testeing),purging atau pembiasan,pengucilan (isolation) peralatan yang akan di las dan lain – lain.
            Pelaksanaan singgung nyala (arc strike) tidak boleh di sembarang tempat,harus pada kampuh las bersangkutan guna menghindarkan peristiwa terjadinya penuaan (quencing) pada permukaan yang tersinggung arc srike dan menyebabkan retak permukaan yang sangat potensial utuk menyebabkan bahaya pada kemudian hari.
            Jangan mengelas langsung pada pemukaan yang berlapiskan cat,karena disamping hasilnya buruk akibat cat tersebut juga berbahaya bagi pelaksana akibat terhirup gas yang berasal dari terbakarnya cat tersebut. Pada waktu pengelasan di ruangan tertutup,ruang harus dilengkapi oleh ventilasi,fasilitas suplai udara segar (blower) dan lampu penerangan yang memadai dengan tegangan hanya 24 volt.
B.                 Kesehatan dalam pengelasan
Hal terpenting yang harus dilindungi dalam pengelasan adalah keselamatan indra penglihatan/mata, alat pernapasan/paru-paru dan kulit. Akibat radiasi tersebut retina dan selaput luar mata dapat rusak dan kering. Jika kersakan telah demikian lanjut, maka mata dapat menderita kebutaan. Oleh sebab itu pelindung mata sewaktu pengelasan adalah mutlak. Pelindungan dilaksanakan dengan mempergunakan kaca gelap peredam sinar ultra violet.
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah alat pernapasan. Pengelasan selain menghasilkan gas pelindung (shielding gas) yang berasal dari lapisan luar elektroda (coating), juga gas-gas hidrogen, ozon dan lain-lain yang jika terhirup dalam waktu yang panjang akan merusak kesehatan bahkan dapat meracuni darah. Oleh sebab itu pelaksana pengelasan harus dilindungi dari pengaruh gas-gas tersebu. Jika pengelasan dilaksanakan di udara terbuka, maka tidak perlu di beri alat pengusir gas, mengingat gas secara alami akan membumbung dan terhembus angin. Namun jika pengelasan dilaksanakan di dalam ruang tertutup palagi sempit/gelap, maka guna melindungi pernapasan pelaksana, pada ruang tersebut disediakan lubang ventilasi dan diperlengkapi dengan blower pensuplai udara segar dari luar. Jika hal- hal tersebut tidak dipersiapkan lebih dahulu, pihak plaksana berhak menolak untuk melaksanakan pekerjaan las tersebut, mengingat keselamatan jiwanya.
BAB III
PENGELASAN 4G

3.1 Alat dan Bahan
Daftar Alat

No
Nama alat
SPESIFIKASI
Jumlah
PEMILIK
1
Mesin Las
AC 250
1
Sekolah
2
Mesin Gerinda Tangan
MAKTEC 6 100
1
Sekolah
3
Topeng las
Standar
1
Sekolah
4
Sarung Tangan Las
Standar/Kulit
1
Sekolah
5
Apron
Standar/Kulit
1
Sekolah
6
Apron Lengan
Standar/Kulit
1
Sekolah
7
Palu Terak
¼ Kg
1
Sekolah
8
Sikat kawat
Standar
1
Sekolah


Daftar Bahan

NO
NAMA BAHAN
SPESIFIKASI
JUMLAH
SATUAN
1
Pelat baja karbon
200x100x10 (mm)
2
Pcs
2
Elektroda
3,2 E6013 dan E7016 LB52-U
15
Pcs
3
Batu Gerinda Poles
4”
1
Pcs
4
Batu Gerinda Potong
4”
1
Pcs

3.2 Proses Pekerjaan
1. Persiapan
A.            Gunakan perlengkapan keselamatan kerja
B.            Potong bahan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan
C.            Buat champer/kamppuh pada salah satu sisi benda kerja dengan kemiringan  30o - 40o
D.           Periksa mesin las dan pastikan berfungsi dengan baik kemudian atur arus sesuai dengan keperluan
E.            Lakukan penyetingan dan berikan pengelasan teekweld(las titik) pada benda yang akan dilas.


A.                Penembusan
·                     Memulai pengelasan dengan menggunakan elektroda E7016 LB 52-U
·                     Lakukan pengelasan dari bawah keatas dengan kemiringan setang las 10o
·                    Jika elektroda yang kita gunakan sudah habis,sebelum melakukan penyambungan penembusan kembalii,alangkah baiknya digerinda dulu pada titik penembusan itu berhenti dengan menggunakan gerinda potong untuk member celah/jalur masuk cairan agar sambungan bagus dan sempurna
·                    Setelah selesai,bersihkan hasil lasan untuk menghilangkan terak yang menempel pada hasil lasan kita,jika ada hasil penembusan yang belum rata sebaiknya gerinda dulu agar proses selanjutnya menjadi rapi.

B.                 Filler
·                     Lakukan pengelasan filler ini dengan elektroda jenis E6013
·                     Lakukan pengelasan filler seperti pada proses penembusan tadi
·                     Sebelum menyambung hasil lasan sebaiknya gerinda dengan gerinda potong
·                    Lakukan proses ini hingga akhir ,kemudian bersihkan  terak-terak yang menempel pada hasil lasan,dan lebih baik lagi hasil lasan disikat dengan sikat kawat,dan gunakan pahat untuk menghilangkan terak yang susah dihilangkan.

C.                Capping
·                    Lakukan pengelasan ini dengan elektroda jenis E6013 dengan cara di ayun membentuk huruf “U”
·                    Lakukan pengelasan ini seperti pada proses  pengelasa filler,pengelasan capping ini menutupi lapisan filler hanya jaraknya lebih besar daripada proses filler.


3.   Perbaikan
A.                Jika ada pengelasan root hasilnya tidak memuaskan lakukan penggerindaan pada jalur  las ini hingga rata sebelum di las,yaitu sudutnya 60o dari kedua bagian benda yang akan dilas
B.                Jika celah untuk penembusan terlalu kecil,lakukan penggerindaan hingga sesuai
C.                Jika pada pengelasan filler atau capping merasa kurang puas dapat menggerindanya dan dilas kembali
D.                Lepaskan benda yang sudah dilas kemudian bersihkan dari terak bila masih ada yang tesisa,bila perlu digerinda
E.                 Lakukan penggerinddan pada bekas teck weld hingga rapi.

4.   Penyelesain
A.                Laporkan kepada kepembimbing bahwa pekerjaan sudah selesai
B.                 Bersihkan dan rapihkan  alat dan lingkungan
C.                 Kembalikan alat dan perlengkapan pada petugas
D.                Kumpulkan instrument dan laporan kerja pada pembimbing untuk verifikasi.



3.3 Hasil Kerja
Penembusan
Sambungan berlubang


Sambungan berlubang:sambungan las yang menyebabkan lubang

capping







3.4 Bentuk – bentuk posisi pengelasan


  



3.5 Perhitungan biaya

1.                 Harga bahan
a.                   2 plat besi(200x100x10)mm                           =Rp.25.000,-
b.                  10 elektroda   Æ3,2 E6013 @Rp.800             =Rp   8.000,-
c.                   5 Elektroda Æ3,2 E7016 LB 52-U @Rp.800 =Rp.  4.000,-
d.                  1 batu gerinda poles                                        =Rp.  7.000,-
e.                   1 batu gerinda potong                                     =Rp.  7.000,-   +
Jumlah                                                                Rp.51.000,-

2.                 PPN/Pajak
1)                  Harga Bahan                                                   =Rp.51.000,-
Pajak 10%x Rp.51.000                                               =Rp.  5.100,-

3.                 Keuntungan
a.       Harga bahan                                                  =Rp.51.000,-
b.       Ppn                                                                =Rp.  5.100,- +
              Jumlah                                                           +Rp.56.100,-
              PPN 15%x Rp.56.100,-                                            Rp.8.415,-

4.                 Ongkos produksi keseluruhan

              Jumlah (1+2+3)                                           =Rp.64.515,-


















BAB IV
TEMUAN DAN PENGEMBANGAN

4.1            Faktor pendukung dan penghambat, yaitu:
a.       Adapun factor-faktor pendukung dan penghambat
·                    Para pembimbing yang selalu memberikan pengarahan sewaktu melakukan proses kerja
·                     Ketersediaan bahan yang cukup dari pihak sekolah
·                     Waktu yang diberikan cukup banyak.
b.      Adapun factor-faktor yang mengahmbat pelaksanaan tugas akhir ini,yaitu:
·                     Persediaan mesin las kurang memadai
·                     Persediaan alat kurang memadai.

4.2           Rencana tindak lanjut
            Posisi pengelasan 4G merupakan bentuk pengelasan groove yang banyak digunakan pada konstruksi-konstruksi yang menyambung plat-plat tebal untuk keperluan pembebanan dan kekuatan besar.Hal ini banyak dijumpai pada konstruksi jembatan,menara,dan lainnya.Oleh karena itu,dengan adanya tugas akhir ini saya ingin menerapkan keahlian yang saya miliki dengan melamar pekerjaan pada perusahaan-perusahaaan yang  bergerak dibidang konstruksi alat berat yang khususnya memerlukan tenaga kerja berkeahlian pengelasan 4G.



















BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan

            Proyek tugas akhir ini merupakan bentuk evaluasi akhir dari pelajaran produktif bagi siswa tingkat III yang akan melaksanakan ujian.Tugas akhir  ini sangat menguji sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam hal ini kemampuan mengelas posisi 4G sebagai bekal dalam bekerja di masa yang akan datang.
            Dalam proyek tugas akhir ini siswa dituntut  untuk sabar,tekun,dan mempunyai kondisi yang sangat baik karena dalam mengelas kondisi fisik sangat penting dan mempengaruhi hasil lasan.Karena dalam mengelas menguras cukup banyak tenaga dankesabaran untuk mengayunkan elektroda  untuk membuat rigi-rigi las dan juga tahan terhadap panas radiasi  yang dihasilkan drai proses pengelasan.

5.1 Saran

            Ada beberapa yang ingin saya sampaikan,yang muda-mudahan  akan mampu untuk memperbaiki dalam pelaksanaan proyek tugas akhir tahun yang akan datang,diantaranya:

1.                  Saran untuk sekolah
·                    Proyek tugas akhir ini agar terus dipertahankan karena sangat bermanfaat bagi siswa
·                     Menambah/memperbanyak lagi peralatan da mesin yang ada
·                    Adanya bimbingan/nasihat bagi siswa  untuk lebih bertanggung jawab pada alat-alat yang digunakan.
2.                  Saran untuk adik kelas
·                     Siswa harus mematuhi tata tertib bengkel saat melaksanakan uji kompetensi
·                    Ketika melaksanakn praktik,jangan keluar masuk bengkel sembarangan tanpa izin guru/pembimbing
·                     Agar lebih memperhatikan keselamatan kerja dan gunakanlah APD







DAFTAR PUSTAKA


Widharto, Sri. 2007. Menuju Juru Las Tingkat Dunia Jakarta : Pradnya Paramita.

Widharto, Sri. 2006. Menuju Juru Las Tingkat Dunia Jakarta : Pradnya Paramita.

Sadih dan Sasmita, Heri M. 2004. Mengelas Dengan Proses Las Busur Metal Manual Bogor : SMKN 1 Gunung Putri.

Mustiko, Joko dan Sasmita, Heri M. 2004. Mengelas Dengan Proses Las Oksiasetilen (Las Karbit) : SMKN 1 Gunung Putri
  
Sahroni. Irpan, 2008. Laporan Project Work Posisi pengelasan 3G: SMKN 1 Gunung Putri

Nasrimz16.blogspot.com

Nasri_mz16@yahoo.co.id